LAMAN

Tampilkan postingan dengan label BelaNegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BelaNegara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2014

INDONESIA MASIH TERJAJAH (REVIEW PIDATO PENGUKUHAN GURU BESAR PROF. DR. UMAR KAYAM TRANSFORMASI BUDAYA KITA)

Pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. Umar Kayam yang dibacakan 20 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 19 Mei 1989, ternyata masih relevan dan mampu mengungkapkan kondisi faktual yang terjadi sekarang ini. Kondisi negara dan bangsa Indonesia yang walaupun secara fisik telah merdeka tetapi dalam kenyataannya sekarang ini “terjajah” kembali. Ketergantungan yang begitu besar terhadap asing baik di bidang ekonomi, teknologi dan juga budaya, menunjukkan ketidakmampuan bangsa Indonesia menghadapi invansi budaya barat yang sekarang sedang mencekeram dunia. Keterpurukan Indonesia sekarang ini oleh Prof. Dr. Umar Kayam dikatakan sebagai ketidakmampuan bangsa Indonesia melakukan transformasi budaya.
            Dialog budaya barat  dengan budaya lokal tidak berjalan dengan baik karena adanya pemaksaan

Rabu, 13 November 2013

PENGEMBANGAN INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Industri pertahanan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kekuatan pertahanan suatu negara, terlebih dalam era modern sekarang ini. Negara yang memiliki industri pertahanan yang maju akan mempunyai kemampuan lebih dalam kekuatan pertahanannya. Kekuatan pertahanan suatu negara akan lebih mumpuni bila ditunjang dengan kemampuan negara tersebut memproduksi berbagai macam sarana dan prasarana pendukung pertahanan melalui industri pertahanan yang dimilikinya.
            Industri pertahanan yang kuat mempunyai dua efek utama, yakni efek langsung terhadap pembangunan kemampuan pertahanan, dan efek terhadap pembangunan ekonomi dan teknologi nasional. Dalam bidang pembangunan kemampuan pertahanan, industri pertahanan yang kuat menjamin pasokan kebutuhan Alutsista dan sarana pertahanan secara berkelanjutan. Ketersediaan pasokan Alutsista secara berkelanjutan menjadi prasyarat mutlak bagi keleluasaan dan kepastian untuk menyusun rencana pembangunan kemampuan pertahanan dalam jangka panjang, tanpa adanya kekhawatiran akan faktor-faktor politik dan ekonomi, seperti embargo atau restriksi. Industri pertahanan dapat memberikan efek pertumbuhan ekonomi dan industri nasional, yakni ikut menggairahkan pertumbuhan industri nasional yang berskala internasional, penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup signifikan, transfer teknologi yang dapat menggairahkan sektor penelitian, dan pengembangan sekaligus memenuhi kebutuhan sektor pendidikan nasional di bidang sains dan teknologi[1].
            Memang tidak ada sebuah negara yang mampu seratus persen mandiri dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista), pasti terdapat ketergantungan terhadap negara lain. Amerika sebagai negara yang paling kuat sistem pertahanannya dan terbesar penghasil alutsista[2], ternyata masih memerlukan pasokan komponen dari negara lain untuk kebutuhan industri pertahanannya. Bahkan sebuah kasus menunjukan terdapat komponen elektronik palsu produksi China dalam sebuah pesawat tempur buatan Amerika[3].